Buta itulah kondisi mataku saat ini. aku tidak bisa melihat indahnya dunia, hanya gelap yang aku lihat, tapi untunglah ada ibuku yang jadi cahaya dan menerangi jalanku. ibu selalu menuntun langkahku kemanapun aku pergi. Ibu sangat sayang padaku apapun kondisiku saat ini.
Mataku buta akibat kecelakaan sewaktu umurku 8 tahun dan itu terjadi lima tahun lalu. Saat itu di sore yang cerah. Aku dan Teman-teman ku berkumpul di lapangan bola dekat rumahku untuk bermain bola. Lapangannya luas dan hijau, angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat aku dan teman-temanku bersemangat sekali. Kami yang berjumlah dua belas orang membagi dua tim dan satu tim berjumlah enam orang. Kami pun bersiap-siap mengatur posisi untuk mulai bermain. Aku menjadi penyerang. Kami hanya memakai setengah lapangan, karena lapangannya sangata luas dan anggota tim kami yang hanya sedikit, jika kami memakai seluruh lapangan kami akan cepat kelelahan.
***
Aku berlari menggiring bola dengan kecepatan penuh aku melaju seperti roket. Setelah mendekati gawang musuh dengan nafas yang terengah-engah. Aku tendang bola itu sekuat tenaga ke arah gawang. Sayangnya tendanganku yang begitu kerasnya mampu di hentikan oleh penjaga gawang.
Sang kiper melambungkan bola ke tengah lapangan. Temanku yang berada di tengah lapangan menunggu bola datang dan jatuh ke arahnya. Tapi perjuangannya tidak mudah karena pemain lawan sudah siap lebih dulu untuk mengambil bola. Bola yang melambung itupun terjatuh dan di kuasai pihak lawan. Saat pihak lawan ingin mengoper bolanya, temanku langsung memotongnya dan melambungkan bolanya ke arahku. Kali ini aku harus memasukkan bola itu ke gawang, karena bagiku bola dari umpan temanku ini adalah kepercayaan aku takkan menghilangkan kepercayaan temanku.
Aku menggiring bola itu ke arah gawang dengan semangat yang membara. Aku melewati pemain belakang lawan dengan sangat mudah. Kali ini aku tidak akan asal tendang ke gawang, tapi aku mencari celah yang sulit dijangkau sang kiper. Aku menendang bola itu ke sudut atas gawang, namun sayangnya kiper itu begitu hebat. Ia mampumenepis tendanganku yang keras.
Kiper itu menepis bola ke pinggir lapangan. Untunglah disitu ada temanku yang siap menggolkan bola. Tapi, musuh sudah menghadangnya. Tapi temanku mampu mengecohnya dan mangumpan bola ke arahku. Aku yang berada dekat sekali dengan kiper , yang jaraknya sekitar dua meter, langsung menendang bola yang di umpankan temanku dengan sangat sempurna, kiper yang kaget karena tiba-tiba aku yang berada di dekatnya mendapatkan bola dan menendang bola itu kearahnya. Kiper itu tak mampu berbuat apa-apa dan gol pun terjadi.
Sang kiper terlihat begitu kecewa karena tidak mampu mempertahankan gawang. Timku mendapat satu angka dan skor saat ini adalah 1-0 untuk timku. Babak pertamapun selesai. Kami beristirahat di pinggir lapangan. Timku dan tim lawan adalah teman bermain bersama, jika di lapangan kami adalah musuh, tapi saat istirahat kami adalah teman.
Saat istirahat aku hanya minum sedikit untuk membasahi tenggorokanku yang kering, setelah itu aku menggiring bola, bolak balik seperti gosokan yang sedang menggosok baju.
“Coy minum dulu nih lo udah minum belum ?” tanya temanku.
“udah tadi, ayo mulai babak 2 gw udah gak sabar nih pingin golin lagi” pintaku sambil memainkan bola
“bentar lagi masih aus” jawab temanku.
Saat sedang mencoba teknik menggiring bola aku tidak sengaja melambungkan bola ke tengah jalan. Aku segera mengambil bola, karena taku bola ituterlindas kendaraan yang lewat dan bola itu pecah. Saat aku mengambil bola dan hendak ke tepi jalan tiba-tiba ada mobil box yang melaju sangat cepat dan menabrakku. Aku melihat teman-temanku berlari kearahku.
Sejak saat itulah mataku tidak bisa melihat. Kata dokter ada sel syarafku yang rusak. Aku menangis menyesali kejadian itu. Bagai mana aku bisa hidup tanpa melihat?. Tapi peluan ibu begitu hangat dan langsung menenangkanku. Ibu sering mengajakku ke taman dan menceritakan apa yang dia lihat kepadaku.
Aku ingin sekali bisa melihat wajah ibu apalagi saat ibu tersenyum. Tapi aku hanya bisa mendengar suara ibu tersenyum dan akupun tersenyum saat mendengarnya. Entah saat itu ibu sedang menangis atau bersedih. Aku tidak bisa merasakannya di hadapanku ibu selalu terasa bahagia.
Sungguh kasih sayang seorang ibu bagaikan udara. Kasih sayangnnya takan pernah bisa terbalaskan. Beruntunglah mereka yang bisa melihat senym ibunya. “aku janji bu, aku akan buat ibu bahagia dengan keterbatasan yang ku miliki”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar